Dofollow

Kamis, 26 September 2013

pebisnis sukses

Dirut RNI Ismed Hasan Putro saat berkunjung ke Redaksi Okezone. (Foto: Okezone)


Dirut RNI Ismed Hasan Putro saat berkunjung ke Redaksi Okezone. (Foto: Okezone)
JAKARTA - Pernah kebayang nggak sih, seseorang yang dendam terhadap sesuatu, malah berkecimpung di dunia itu. Atau dari awalnya enggak suka, malah menjadi suka.

Hal itu terjadi di diri Direktur Utama (Dirut) PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) Ismed Hasan Putro. Dia mengaku dendam terhadap dunia bisnis karena Ayahnya bangkrut dari dunia bisnis. Sehingga membuat Ismed enggan menjadi pebisnis.

"Ayah saya dulu pengusaha pada 1970-1980an, pada 1989 Ayah saya bangkrut ketika saya kuliah di Universitas Indonesia (UI). Kemudian saya dendam untuk tidak mau jadi pebisnis, saya beralih ke dunia intelektual, waktu itu saya tertarik jadi Jurnalis di Kompas, setelah itu pindah ke Jawa Pos," ujarnya saat berkunjung ke Redaksi Okezone, belum lama ini.

Secara kultur, tambah dia, keluarganya adalah seorang pedagang. Namun karena sudah dendam untuk tidak mau berdagang maka dia tidak mau melanjutkan usaha keluarga. "Karena saya marah lantaran ayah saya bangkrut karena ditipu," sambungnya.

Namun, pucuk dicinta ulam pun tiba. Ismed bertemu dengan Dahlan Iskan, yang kini sudah menjadi Menteri BUMN. Dahlan bertanya kepada Ismed, apakah ingin menjadi wartawan atau pebisnis. Hati kecil Ismed pun tak dapat berbohong, dirinya ingin jadi pebisnis.

"Setelah dua tahun di penelitian dan pengembangan (litbang) Kompas, saya ditawari oleh Jawa Pos untuk bergabung. Kemudian bertemu dengan Dahlan Iskan. Jadi saya dua kali bekerja tidak pernah melamar, tidak pernah mengajukan lamaran kerja dan tidak pernah juga di tes, jadi diajak aja," katanya.

Ismed melanjutkan, selama sembilan tahun dirinya telah bergelut dengan profesi Jurnalis. Perlahan, Dahlan pun mulai mengajari dirinya berbisnis.

"Beliau kasih peluang untuk saya mulai berbisnis, dikasih kode etik untuk mulai membuat perusahaan. Ketika itu saya bermimpi di Surabaya ada jalan tol di tengah kota, saya membuat perusahaan yang bergerak dibidang konstruksi pada zaman orde baru," ucap pria yang pernah kuliah di Universitas Indonesia (UI) jurusan Filsafat itu.

Dari situ, lanjut Ismed, kemudian bergabung dengan Setiawan Djody. Ia menjadi salah satu direktur yang mengembangkan perkebunan, walaupun tidak berlanjut.

"Karena saya mundur dan saya berbisnis eksportir gula. Sekian tahun saya menjadi pemain gula, saya diajak oleh Sugianto untuk menjadi anggota pemimpin kebijakan publik di Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN)," ungkapnya.

Setelah itu, Ismed didapuk menjadi anggota pemimpin kebijakan publik di Kementerian BUMN, lalu menjadi komisaris di RNI pada 2008. Mengarungi masa empat tahun menjadi komisaris, Ismed kemudian ditawari untuk ikut pemilihan direksi yang baru.

"Pada saat itu saya ikut wawancara oleh Sofyan Djalil. Ketika sampai diakhir, tiba-tiba terjadi pergantian Menteri. Ketika sudah mau di teken, Menterinya berganti, saya pikir tidak jadi sebagai Direksi di RNI," katanya.

"Tiba-tiba yang jadi menterinya Pak Dahlan, kemudian diangkatlah saya sebagai Direktur Utama (Dirut). Jadi prosesnya seperti itu, tapi sebenarnya sebelum di RNI, saya sudah berbisnis properti, dan saya mengembangkan properti di Bandung dan di Lombok," sambungnya.

Mengabdi Pada Negara

Seorang Ismed pun mempunyai motivasi terbesar dalam hidupnya sebagai Dirut RNI, yaitu mengabdi kepada negara dengan cara membalas budi kepada negaranya.

"Saya ingin agar hidup saya lebih berarti dan saya kira sudah diberi cukup oleh Tuhan banyak kenikmatan-kenikmatan, yang saya pikir saatnya untuk berbagi dan kenikmatan itu saatnya saya bayar lagi kepada Republik dengan cara saya mengabdi di RNI," katanya.

"Saya di RNI memang tidak lagi mencari jabatan, tidak mencari uang dalam pengertian untuk mendapatkan kekayaan dengan cara yang tidak halal. Bahkan gaji saya pun kebanyakan saya berikan kepada karyawan yang membutuhkan," sambungnya.

Ismed meyakini, apa yang dia dapatkan atas kenikmatan yang diraihnya, dia tetap ingat kepada negaranya.

"Jadi, saya betul-betul sekarang ini ingin membayar kepada Republik, atas segala kenikmatan yang sudah saya dapatkan selama ini sebagai anak bangsa," katanya. (ade)

sumber : http://kampus.okezone.com/read/2013/09/25/373/871477/dari-dendam-jadi-pebisnis-sukses