Dofollow

Jumat, 27 September 2013

kisah nyata " dendam positif menjadi motivasi diri "


                                                      DENDAM MEMBAWA BERKAH

“jangan pandir main komputer, kalo ggaa ngerti mengoprasikannya ! jangan Cuma bisa merusak !!!”
Kira-kira seperti itu lah makian yang terlontar dari mulut ayah pada ku.
juni 2008 ketika itu aku baru lulus SMP, mulai menginjak masa “semua GUE”.
Sudah kuputuskan sejak awal, ketika penerimaan siswa baru nanti aku ingin masuh ke STM ( sekarang SMK) ingin ambil jurusan Otomotif. Tidak banyak yang ku lakukan ketika liburan menjelang masuk SMA, aku lebih banyak di rumah dan bermain bersama teman-teman, karena ku pikir aku akan menghabiskan banyak waktu selam 3 tahun ke depan di tempat lain. Hari itu seperti biasa aku bangun pagi membantu ibu beres-beres rumah tentunya setelah selesai bantu ibu kebiasaan ku kumat yaitu TIDUR LAGI,, hahaha.
tak terasa waktu sudah menunjukan pukul  11 siang aku terbangun dan langsung di semprot dengan omelan-omelan ibu. Aku seperti tidak memperdulikannya. Sasaran utama ku adalah komputer ayah, aku lantas menyalakannya dan bermain game, tak terasa 4 jam sudah aku di depan komputer, sedang asyik bermain tiba-tiba komputer ayah nge-hank (istilah kerennya BLUE SCREEN). Aku panik karena kebetulan sekali ayah pulang cepat biasanya jam 4 jam 5 baru pulang. Bingung tidak tahu apa yang harus ku lakukan, ingin sekali rasanya aku kabur, namun sial kembali menghampiri aku di pergoki ayah.
“kenapa dengan komputernya ?”
“ga tau” jawab ku ketus. Ayah lantas mengmbil alih dan berusaha memperbaiki, tapi komputernya masih tetap ngambek. Kembali lagi hari ini ku terima makian ayah.
“kamu apa kan komputer ini sampai seperti ini, apa yang kamu pencet ?!”
“ga ada, aku Cuma main game” jawab ku.
“gaa usah lagi main-main game. Liat perbuatan mu ! jangan pandir main komputer, kalo ggaa ngerti mengoprasikannya ! jangan Cuma bisa merusak !!!”
waoww... makian ayah terdengar kasar sekali, seketika darah ku mendidih, rasanya aku ingin balik memaki karena tidak terima dimaki ayah seperti itu. Tapi apa daya aku hanya bisa manut dan menyimpan amarah itu, lama sangat lama kusimpan amarah itu.
Dalam kesendirian kata-kata itu selalu terngiang di telinga ku, selalu terpikirkan bagaimana cara menunjukan kepada ayah bahwa aku lebih mahir dari pada beliau dalam mengoprasikan komputer. Mungkin Allah mendengar kan apa yang ku pikirkan, ketika aku sedang asyik duduk di depan rumah kakak sepupu ku (yozi) lewat dan menghampiri ku. Kak yozi saat itu sedang duduk di bangku SMA tepatnya di SMK jurusan komputer. Kebetulan sekali gumam ku, aku bisa banyak bertanya tentang komputer padanya. Lantas kak yozi bercerita dan menyarankan ku agar masuk ke SMK yang sama dengannya dan memilih jurusan TKJ ( teknik komputer dan jaringan). Tanpa pikir panjang aku langsung mengiyakannya karena aku sangat ingin membalas kan dendam pada ayah, agar ayah tahu siapa sebenarnya aku.
setahun sudah aku duduk di bangku SMK, saat itu aku sudah lupa apa alasan ku dan apa tujuan ku masuk kesekolah itu, karena keasyikan bermain dan belajar serta menemukan hal—hal yang ku anggap baru dalam hidup ku. Menginjak semester pertama kelas XI kami mendapat tugas magang/PSG, dan aku bersama sahabat terbaiki magang ke lampung, tepatnya di BEST-net komputer tanjung karang. Setelah tiga bulan lamanya kami magang kami pun pulang, aku tidak langsung masuk sekolah karena kami masih boleh meliburkan diri selama dua hari. Waktu liburan itu aku manfaatkan pulang ke kampung karena rindu pada kelurga tercinta. Tidak banyak perubahan pada kampung dan rumah ku, kebetulan sekali ketika di rumah komputer ayah sedang nge-hank tidak bisa di nyalakan. Lantas aku mencoba memperbaiki, 30 menit lamanya komputer ayah ku otak-atik. Alhamdulliah komputernya menyala dan normal kembali.
“ooii.. kamu sudah bisa memperbaiki komputer sekarang  ya” dengan senyuman bangga ayah menepuk pundak ku. Begitu pun aku, sangat bangga karena apa yang kupelajari tidak sia-sia, dan sangat bermanfaat. Kemudian aku terdiam teringat akan makian ayah ketika dulu komputernya ku buat eror. Dalam hati aku tersenyum puas karena bisa menunjukan pada ayah bahwa aku lebih hebat dari beliau. Aku tersenyum karena amarah yang dulu tersimpan bisa terungkapkan lewat kerja keras ku belajar dan membuktikan pada ayah bahwa aku bisa, aku tersenyum bangga karena bisa merubah dendam menjadi motifasi untuk maju. Andai saja aku tidak bisa mengambil sisi positif dari dendam itu, mungkin aku sudah di baned oleh ayah dari rumah...

Sahabat yang budiman, terkadang kita sering kali melupakan masa kecil kita, melupakan semua hal-hal kecil yang pernah kita lalui. Padahal halhal kecil inilah yang nantinya mengajarkan kita mengenali diri kita sendiri.
1. Cari tahu siapa sebenarnya di kita, seperti apa kita, (kenali diri sendiri)
2. Gali potensi yang ada pada diri kita dan kembangkan,
3. sebisa mungkin rubah dendam/ amarah menjadi hal psoitif sebagai motivasi kita untuk maju
4. terkadang cacian dan makian membuat kita merasa jengkel sehingga kita tidak bisa berpikir jernih, tapi ketahuilah satu hal bahwa cacian dan makian itu lah yang justru akan menjadikan diri kita lebih kuat dan bersemangat. Soo jangan lantas naik pitam yaahhh..
semoga bermanfaat..................
TERIMA KASIH AYAH.....................................