Dofollow

Jumat, 27 September 2013

Seni Bersyukur dan Seni Berkomunikasi

Belum sempat Pak Jokomeletakkan tas kerjanya sepulang ke rumah, matanya tertegun melihat sebuahsurat tergeletak di atas meja.

Di sebuah amplop tertulis “Untuk ayah tersayang”

Setelah belasan tahun menjadi single parent, baru kali ini ada surat untuknyadari Elin anak gadisnya. Ada apa ?
Kalimat pertama padasurat itu sudah mengguncang hatinya;
 
Ayah tersayang, jika ayahmembaca surat ini maka aku sudah tidak ada di rumah.
Sekalipun berat Pak Joko melanjutkan bacaan kata demi kata.

Ayah, aku telah menemukanpria yang akan jadi calon Pendampingiku selamanya.
Memang buat orang lain dia sudah terlalu tua, tapi bagiku pria berusia 43 tahunmasih tetap muda.

Dia sangat energik ayah, kalau ayah mengenal lebih dekat dengannya pasti ayahjuga akan menyukainya.

Ayah jangan terkecoh dengan tato di seluruh tubuhnya atau janggut dan brewoknyayang panjang atau puluhan tindik di telinga dan hidungnya, karena jauh di dalamhatinya ia adalah orang baik.

Ia sangat sayang padaku, dan aku akan kost tidak jauh dari rumahnya....Ohyach....ayah tidak usah kuatir tentang kehidupanku, Aku akan bekerja di sebuahtoko swalayan yang kebetulan pemiliknya adalah teman dari kekasihku ini. 
Ayah jangan bersedihkarena aku bahagia dengan kehidupan seperti ini, Usiaku sudah 18 tahun.....jadiaku bisa memutuskan yang terbaik untuk hidupku.....percayalah...ayah, aku bisamenjaga diri.

Nanti bila waktunya tibaaku akan datang bersama kekasihku untuk mohon restu kepada ayah agar dapatmenikahkan kami.

Tanpa sadar, air matasang ayah menetes jatuh ke lembar surat itu.
Bagaimana mungkin anaknya yang lucu dan periang bisa menjadi seperti ini ?
Lembar pertama surat pertama baru saja selesai dibacanya.

Tangan sang ayahbergetar, berat rasanya, tapi ia membuka lembar kedua surat itu.
Kali ini isinya jauh berbeda.

Ayah sayang,

Maaf, sebenarnya surat di halaman pertama tadi tidak benar-benar terjadi.
Saya hanya ingin menggambarkan betapa kemungkinan terburuk bisa terjadi padaanak-anak gadis, dan syukurlah aku tidak demikian.

Ayah bahagia bukan, kalau aku tetap bersama ayah?

Ayah bahagia bukan, dan tidak ingin tidak menghancurkan diriku seperti itu?
Tentu saja, mempunyai anak yang rapornya jelek, jauh lebih menguntungkandaripada mempunyai anak seperti itu.

Oh iya Ayah, raporku ada di dalam tas, nilainya jelek, maaf ya.
Silahkan ayah lihat, jangan lupa ditandatangani.

Besok guru ingin bicara dengan ayah tentang nilai raporku, jangan marah ya.
Kalau ayah tidak marah melihat nilai raporku, aku sedang bermain di rumahsebelah, aku tunggu yah?

Love you Daddy.

“Eliiiiiiiiin……….!” PakJoko berteriak dan lari ke rumah tetangganya, ia akan mengitik
habis anaknya yang‘keterlaluan’ itu.
Lega rasanya hati PakJoko. Konyol tapi melegakan.

Tidak seperti kebanyakan ayah yang sedih melihat rapor anaknya yang buruk, hatiPak Joko justru berbunga-bunga karena ia tidak kehilangan anaknya.
Memang kali ini, keterlaluan sekali becanda anak gadisnya!

Sebenarnya Elin hanyaingin agar ayahnya tidak marah melihat rapornya yang buruk, untuk membuatmasalah rapor buruk terlihat kecil ia membuat gambaran masalah besar yangmungkin terjadi sehingga masalah yang ada jadi terlihat kecil.

Ini sebenarnya adalahseni bersyukur dan seni berkomunikasi dengan diri.
Kalau Anda inginbersyukur atas kesulitan yang kita terima maka kita sebaiknya membayangkankesulitan lebih besar yang mungkin bisa kita alami. Dengan demikian kita bisamenghindari diri dari stres atau kegalauan yang berkepanjangan.
Masalah kekecewaan hatiatau rasa tidak bersyukur biasanya tidak berhubungan dengan uang tapi lebihkarena penerimaan hati.

Orang yang tidak bersyukur biasanya FOKUS PADA YANG TIDAK DIPUNYAI sedangkanORANG BERSYUKUR FOKUS PADA YANG DIMILIKI.
Kita bisa melihat anakkampung bahagia main layang layang yang 1 set berharga tidak lebih dari Rp 5000.

Tapi anak orang kaya ngambek pada orang tuanya padahal baru dibelikan pesawatremore control seharga 5 juta. Kenapa? Karena anak kaya itu suka dengan yangmodel baru seharga 15 juta.
Ada anak kaya yangngambek pada orang tuanya karena link internet putus satu hari karena lupabayar bulanan, padahal ia sudah beruntung bisa mengakses internet selama 29hari sebelumnya.
Memang apa yang dilakukanElin pada Ayahnya Pak Joko agak keterlaluan, tapi itu gambaran dramatis tentangbagaimana bisa membuat diri kita bersyukur apa adanya.


sumber : dari blog pak agus...^_^