Dofollow

Jumat, 27 September 2013

kisah nyata belajar dari pengalaman “ PENDIDIKAN ALA MILITER MENGASAH MENTAL PEMBERANI DAN PANTANG MENYERAH “

“ PENDIDIKAN ALA MILITER MENGASAH MENTAL PEMBERANI DAN PANTANG MENYERAH “



saat ini umur ku sudah menginjak kepala dua ( 20 tahun), tepat 15 september kemarin umur ku genap 20 tahun, aku selalu bertanya apa yang akan kulakukan di umur yang semakin bertambah ini, aku tidak pernah ingin menjadi sosok lain dalam kepribadian ku, semua orang memiliki kepribadian masing-masing, yang di tempa dari lingkungangan masing-masing, namun semua itu berawal dan berakhir pada diri sendiri.
sejak kecil aku dilatih mandiri oleh ayah dan ibu ku, sedikit saja kesalahan akan berbuah kemarahan yang sangat tidak masuk akal bagi ku, namun semua itu ku anggap wajar, karena memang sejak kecil >7 tahun umur ku, ayah dan ibu ku menerapkan pendidikan ala MILITER terhadap ku. Pernah suatu ketika ayah marah besar pada ku, padahal ku pikir itu hanya masalah sepele, tanpa sengaja aku menghilangkan sebuah pusaka berupa keris (senjata tradisional ) milik ayah ku, lantaran aku ingin pamer kepada teman-teman. Namun sialnya keris itu hilang, entah bagaimana caranya hilang aku tidak tahu persis, yang jelas keris itu sudah tidak ada lagi ditangan ku. Aku bukan lah tipikal pembohong ulung tapi aku pandai bersilat lidah (setidaknya itu yang di katakan teman-teman sebaya ku ) namun aku tidak pandai bersilat lidah di hadapan ayah. Aku mengakui semuanya bahwa aku lah yang tlah mengambil keris itu secara diam-diam dari lemari penyimpanan ayah dan aku pula yang telah menghilangkannya aku berbicara sambil menangis tersedu berharap ayah akan iba pada ku, tapi apa mau dikata, memang salah ku mebangun kan harimau tidur. Dengan garang ayah memarahi ku, aku terus menangis, dalam tangis ku dengarkan semua perkataan ayah yang sangat  menyakitkan hati, ada sepenggal kalimat yang masih ku ingat hingga saat ini dan ku jadikan pelajaran berharga dalam hidup ku. “ tindakan yang kamu lakukan itu sudah termasuk kriminal, mengambil sesuatu tanpa sepengetahuan orang yang punya itu namanya mencuri. Kamu tahu keris itu pemberian dari teman lama ku yang sekarang sudah tiada, kamu harus bisa menghargai pemberian dari orang lain !!!”. ayah sangat marah, dan dengan lincah aku mengelak dan berlari sekencangnya karena ku lihat ayah sudah memegang bambu untuk menghajar ku. Ayah lantas mengejarku sepanjang kampung kami berkejaran, untungnya gerak ayah ku kalah cepat denga kaki ku yang lincah, maklum saja berlari adalah kebiasaan ku ketika nerlomba mengejar layangan putus. Ohh ia, aku lupa mengatakan bahwa ayah ku adalah seorang PNS yang bekerja di LP (lembaga pemasyrakatan), jadi hal wajar jika dia memberikan pendidikan ala MILITER pada ku. Singkat cerita,, malam itu aku tidak berani pulang kerumah, dan dengan terpaksa aku tidur di pos ronda (pos jaga) di kampung ku. Aku kedinginan, menggigil, dengan mata sembab tapi semuanya tak ku hiraukan, aku hanya ingin pulang. Aku beruntung karena kira-kira pukul 9 malam, uwak ( kakak tertua dari ibu) lewat di depan pos jaga melihat ku meringkuk kedinginan, aku ceritakan semuanya dan dia mengantarkan ku pulang....................


sobat yang budiman ini sepenggal cerita hidup ku, yang sampai sekarang tak pernah ku lupa aku selalu mengingatnya, karena menurut ku terdapat petuah dari setiap tindakan ayah terhadap tingkah ku. Dalam hal ini sisi positif yang bisa ku petik adalah :
1. Jangan pernah mengambil barang orang lain tanpa sepengetahuan yang punya, karena bagaimana pun itu bukan lah milik kita, dan itu di kategorikan tindakan kriminal dan hukum islam pun sangat ketat terhadap hal ini.
2. belajarlah untuk menghargai pemberian orang lain apa pun bentuknya. Jika kau ingin di hargai

3. pendidikan ala militer yang ayah terapkan mampu mengasah mental pemberani dan pantang menyerah di kehidupan ku saat ini.
TERIMA KASIH AYAH................................